:::: MENU ::::
Posts tagged with: Indonesia

Tetris dan Teror Jakarta

#Designer’s Note 

Ketika bermain tetris kita melakukan analisa terhadap berbagai faktor, dari mulai bentuk kepingan puzzle yang mulai turun, kepingan selanjutnya yang akan muncul, kepingan-kepingan puzzle lain yang sudah tersusun di bagian bawah, lokasi mana yang paling tepat, serta semua keuntungan/resiko yang mungkin muncul dari peletakan kepingan puzzle tersebut. Semua kita lakukan dalam waktu yang relatif singkat dan berulang kali. Tetris (dan juga berbagai game puzzle lain) melatih kita untuk menganalis, berpikir kritis, mempertimbangkan segala bentuk resiko/keuntungan, dan mengambil keputusan yang tepat dalam waktu singkat.

Sayangnya sepertinya banyak orang tidak sempat bermain tetris…

Majalah tempo 18 Januari kemarin menampilkan foto-foto teror jakarta secara luar bisa. Dari berbagai foto tersebut kita melihat kerumunan masa yang mendekat lokasi bahaya untuk membuat foto (termasuk foto korban). Sebagian dari mereka mungkin langsung membagikan foto korban tersebut ke saudara, rekan, dan teman yang kemudian tanpa berpikir panjang juga ikut membagikannya kembali. Dalam hitungan menit begitu banyak foto korban yang tersebar di media sosial, tanpa peduli hal tersebut mungkin dilihat oleh keluarga korban, atau anak-anak kita yang belum sepantasnya melihat hal tersebut.

Bagaimana kemudian begitu banyak orang tidak memperdulikan resiko untuk kemudian mendekat ke area bahaya, membuat foto (selfie bahkan) dan begitu banyak yang lainnya tanpa berpkir panjang membagi foto tersebut secara sukarela? Tanpa mempertimbangkan apakah itu hal yang baik atau tidak. Ini bukan kali yang pertama, mungkin sudah jadi bagian keseharian kita. Kita begitu mudah membagi satu berita hanya dengan pertimbangan suka, sepakat, atau demi banyak like/komentar semata. Dari satu group ke group lainnya, dari satu timeline ke timeline lainnya.  Apakah itu pantas atau tidak, fakta atau hoak, benar atau fitnah, kita tidak peduli. Buktinya di negeri ini segelintir oknum bisa membuat gosip bahkan fitnah jadi seakan fakta, tersebar begitu luas, berkali-kali, dan (optimis) selesai dengan memohon maaf ala kadarnya.

Apakah kebiasaan ini yang akan kita turunkan pada anak-anak kita? membagi berita tanpa tanya? Menyimpulkan tanpa data? Memutuskan tanpa rasa?

Mengasah kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana perlu banyak latihan dan dibiasakan, untuk itu mungkin kita semua perlu main tetris lebih lama. Tentu akan lebih baik jika kita juga mulai mengajak anak-anak kita bermain bersama.

-EN-

Sumber gambar: http://hypescience.com/

Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Level Design

Minggu ini kita mulai banyak pihak mulai sadar aktivitas  masa orientasi siswa (MOS) yang selama ini dilakukan perlu perubahan. Inisiatif Mentri pendidikan untuk melakukan perubahan terhadap program MOS mesti diakui sebagai sebuah terobosan yang baik. Hal tersebut telah memotivasi banyak orang tua untuk lebih berani mengatakan tidak pada banyak aktivitas MOS yang tanpa makna.Tapi apa sebenarnya yang penting dari masa orientasi tersebut? Mungkin menarik jika kita bahas sedikit dari sudut pandang game designer.

Ketika kita mendesain sebuah game, pada dasarnya kita juga harus memikirkan bagaimana seorang pemain (baru) akan beradaptasi dengan game tersebut. Yang paling utama adalah bagaimana kita bisa menyampaikan semua elemen terpenting dalam gameplay yang kita suguhkan sehingga pemain bisa mengembangkan taktik (jangka pendek) dan strategi (jangka panjang) yang tepat untuk kemudian bisa mencapai objektif yang diharapkan.  Level design untuk sebuah proses/level tutorial menjadi hal yang sangat penting dan bagaimana hal tersebut dihadirkan menjadi  sangat krusial.

Masa orientasi siswa mungkin bisa kita lihat sebagai tutorial level dalam sebuah game. Penting sekali setiap siswa baru bisa mengerti keseluruhan “gameplay” dalam sekolahnya (lingkungan baru yang ia masuki) sehingga kemudian ia bisa menentukan taktik dan strategi terbaik untuk sukses. Sebagian mungkin berargumentasi bahwa dengan waktu dan sumber daya yang ada hal tersebut sulit dilakukan. Kembali ke level design dalam sebuah game, ketika sebuah game sedemikian kompleks maka tutorial level bisa dibagi menjadi beberapa bagian dan ia diberikan ketika dibutuhkan. Jadi mengapa masa orientasi harus dipusatkan hanya pada satu waktu saja? Jika dibutuhkan, kenapa tidak dibagi menjadi beberapa waktu (misal tiap kenaikan kelas)? Sehingga setiap siswa bisa mengerti kemampuan apa yang perlu ia terus ia kembangkan untuk menghadapi tantangan yang semakin berat.

Mungkin akan sangat menarik, jika satu hari ada sekolah bersedia membuka hati untuk diskusi dengan para game designer, mendesain sebuah masa orientasi sekolah yang lebih efektif dan menyenangkan untuk semua.

 

Sumber gambar: tempo.co

Tinta Tanda Cinta Indonesia

jari-tinta

Hari ini 9 Juli 2014 hari yang luar biasa, dengan tanda tinta di ujung jari kami berdua ikut memilih ikut berpartisipasi aktif menunjukan rasa cinta dan harapan kami bagi Indonesia. Tahun ini kami bersyukur diberi kesempatan menikmati pesta demokrasi yang begitu  gegap gempita. Kami bersyukur bisa menikmati pemilu yang mampu memotivasi hadirnya berbagai karya kreatif luar biasa. Komik, animasi, game, hingga pertunjukan musik akbar hadir dalam pemilu yang begitu penuh warna.  Di akhir hari ini kita semua adalah pemenangnya, karena  kita semua masih bisa menikmati kebebasan memilih, berekspresi, dan berkarya!

Pesta telah usai, banyak yang harus kita bereskan, kita bersihkan, dan kita jaga sama-sama. Pesta telah usai, banyak pihak yang harus kita sapa dan kita ingatkan bahwa kita semua adalah saudara.  Pesta telah usai, namun bukan berarti kita kemudian berhenti berkarya.  Pesta telah usai, mari kita lanjut untuk kembali bermain bersama, berbagi bahagia, dan memberikan yang terbaik untuk semua!

*salam 2 jari

EN