:::: MENU ::::

Reformasi Program Studi Game

 

Sering mendapat kabar bahwa banyak mahasiswa yang kemudian enggan belajar tentang game karena melihat banyak hal teknis/rumit yang harus mereka pelajari. Membuat game jadi sebuah kemewahan dan hak ekslusif sebagian mereka yang cukup pintar dan bersedia bekerja keras.

Di satu sisi hal ini memang bagian dari seleksi, mereka yang sungguh-sungguhlah yang akan berhasil.

Di sisi lain kita mungkin kehilangan banyak talenta, hanya gegara kita tidak sunguh-sunguh mampu mendesain sebuah pendekatan pembelajaran game yang baik. Kita terjebak mengajarkan game melulu dari aspek teknis dan peluang bisnis. Kita lupa bahwa para talenta muda itu mampu membuat perubahan berarti dan bahwa kesempatan untuk melakukan perubahan mungkin adalah motivasi yang tertinggi. Andai kita bisa secara rutin meyakinkan mereka, memberi contoh, membuka jalan – bahwa game bisa jadi media untuk mereka menciptakan berbagai perubahan berarti, mungkin akan lebih banyak yang bersedia belajar sepenuh hati.

Mungkin kita belum mampu meyakinkan mereka karena banyak diantara kita sendiri yang belum sepenuhnya percaya, bahwa kita mampu menghadirkan perubahan lewat setiap karya.

 

Sumber gambar: http://gamefulscholar.me/

One Comment

  • Reply Taufan Fadhlil |

    sekedar bermodal pengalaman saya setuju dengan yang mas eko sampaikan 😀 dari pengalaman saya membentuk komunitas game dev di kampus, masalah dan rintangan yang saya hadapi juga beragam. Masalah awal yang cukup bikin saya pusing adalah menggabungkan bakat-bakat dari anggota komunitas saya agar dapat berjalan harmonis tanpa harus ada yg terbebani. Yang notabene bakat mereka cukup….unik dan beragam ( dj chip tune, pesilat, videografi, ilustrasi, anggota komunitas motor antik, anak band, dll )

    dalam menghadapi masalah ini, hal yang saya ingat adalah pengalaman raid boss di game WoW ( World of Warcraft ) dimana formasi dari tim yang terbentuk seringkali acak dan jauh dari format yang diperkirakan. akan tetapi justru biasanya kondisi seperti ini dapat melahirkan metode baru yang bisa jadi lebih efektif atau paling tidak bisa memberi pelajaran tentang kondisi raid yang ingin diselesaikan. pengalaman ini yang saya jadikan motifasi dan pedoman untuk terus mencari kombinasi dan porsi yang tepat dalam membagi divisi dan job des pada anggota saya. karena sejauh yang saya pelajari, dalam pembuatan game yang menarik membutuhkan hampir dari semua lini profesi untuk membangunnya. ya… bisa dibilang dari desainer game, ilustrator, programer, bahkan dokter, fisikawan, antropolog, astronom pun saya rasa sangat dibutuhkan dalam membuat game.

    ya tapi seperti yang mas eko sebutkan di atas “Kita terjebak mengajarkan game melulu dari aspek teknis dan peluang bisnis” seakan kita lupa menyampaikan apa asiknya, dan apa serunya membuat game.

So, what do you think ?