:::: MENU ::::
Browsing posts in: Note

Designer’s Note: Nasi Goreng dan Game Design

Nasi goreng relatif mudah untuk dibuat. Apalagi dengan tersedianya berbagai bumbu instant nasi goreng – semua orang bisa membuat nasi goreng. Menariknya sebagian nasi goreng bisa lebih enak dari yang lain, menu nasi goreng di berbagai restoran juga tetap jadi salah satu menu favorit dan kadang dengan harga yang luar biasa. Terlepas nasi goreng bisa dibuat dengan mudah dan bahwa banyak orang punya akses membuat nasi goreng, banyak yang belum sepenuhnya sadar bahwa kemampuan pembuatnya memilih bahan dasar yang tepat serta kemampuan/pengetahuan memasak yang terus diasah dan dikembangkan yang jadi kunci utama.

Begitu pula dengan game…

Membuat game relatif mudah dan semua bisa membuat game. Dengan perkembangan teknologi informasi yang luar biasa saat ini, banyak yang memiliki akses pada berbagai software yang mendukung proses pembuatan game. Sayangnya banyak yang belum sadar sepenuhnya bahwa proses game design (optimalisasi berbagai elemen dasar: objektif, gameplay, tema/narasi, dan teknologi) jadi satu hal paling krusial. Banyak yang menganggap game design hanya satu proses melirik game yang sudah ada sebelumnya – dan copy paste seperlunya. Sebagian lagi kadang terjebak merasa bisa dan lupa untuk terus belajar memperbaiki prosesnya. Padahal, proses game design yang kita kembangkan mungkin yang akan jadi pembeda – apakah game kita akan menjadi istimewa atau game biasa saja.

Sumber gambar: Wikipedia.org (nasgi goreng kambing pete)

Designer’s note: Pagi

Setiap pagi, ketika tuan putri Kiriya bangun, kami bernyanyi di pinggir tenpat tidurnya. Ritual pagi biasanya lanjut bagi cerita, diiringi senyum, tawa, dan sarapan sama-sama. Setiap pagi kami dapatkan bahagia yang begitu berlimpah dan semakin bertambah ketika kami mendapatkan kesempatan untuk membaginya.

Game designer adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan bahagia ke dalam sebuah media bernama game. Ia akan sukses dengan karyanya ketika pemainnya bisa merasakan bahagia dan bersedia membaginya bersama pemain lainnya. Untuk bisa melakukan itu semua, seorang game designer harus belajar sungguh-sungguh mengenali, merasakan, dan membagi bahagia setiap hari.

a day without laughter is a day wasted – Charlie Chaplin

Semoga pagi anda penuh bahagia dan semoga ada banyak kesempatan untuk senantiasa membaginya!

 

Sumber gambar: http://itsmyfun.net/

Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Level Design

Minggu ini kita mulai banyak pihak mulai sadar aktivitas  masa orientasi siswa (MOS) yang selama ini dilakukan perlu perubahan. Inisiatif Mentri pendidikan untuk melakukan perubahan terhadap program MOS mesti diakui sebagai sebuah terobosan yang baik. Hal tersebut telah memotivasi banyak orang tua untuk lebih berani mengatakan tidak pada banyak aktivitas MOS yang tanpa makna.Tapi apa sebenarnya yang penting dari masa orientasi tersebut? Mungkin menarik jika kita bahas sedikit dari sudut pandang game designer.

Ketika kita mendesain sebuah game, pada dasarnya kita juga harus memikirkan bagaimana seorang pemain (baru) akan beradaptasi dengan game tersebut. Yang paling utama adalah bagaimana kita bisa menyampaikan semua elemen terpenting dalam gameplay yang kita suguhkan sehingga pemain bisa mengembangkan taktik (jangka pendek) dan strategi (jangka panjang) yang tepat untuk kemudian bisa mencapai objektif yang diharapkan.  Level design untuk sebuah proses/level tutorial menjadi hal yang sangat penting dan bagaimana hal tersebut dihadirkan menjadi  sangat krusial.

Masa orientasi siswa mungkin bisa kita lihat sebagai tutorial level dalam sebuah game. Penting sekali setiap siswa baru bisa mengerti keseluruhan “gameplay” dalam sekolahnya (lingkungan baru yang ia masuki) sehingga kemudian ia bisa menentukan taktik dan strategi terbaik untuk sukses. Sebagian mungkin berargumentasi bahwa dengan waktu dan sumber daya yang ada hal tersebut sulit dilakukan. Kembali ke level design dalam sebuah game, ketika sebuah game sedemikian kompleks maka tutorial level bisa dibagi menjadi beberapa bagian dan ia diberikan ketika dibutuhkan. Jadi mengapa masa orientasi harus dipusatkan hanya pada satu waktu saja? Jika dibutuhkan, kenapa tidak dibagi menjadi beberapa waktu (misal tiap kenaikan kelas)? Sehingga setiap siswa bisa mengerti kemampuan apa yang perlu ia terus ia kembangkan untuk menghadapi tantangan yang semakin berat.

Mungkin akan sangat menarik, jika satu hari ada sekolah bersedia membuka hati untuk diskusi dengan para game designer, mendesain sebuah masa orientasi sekolah yang lebih efektif dan menyenangkan untuk semua.

 

Sumber gambar: tempo.co

Satoru Iwata

Hari ini, game industri dunia kehilangan salah satu insan terbaiknya: Satoru Iwata,  CEO Nintendo.

Berikut adalah potongan dari terjemahan wawancara beliau dari  buku “Introduction to Game Design” (1994 – Japan Books):

The qualities I look for when hiring a programmer for my company are curiosity, ambition, and whether he can sacrifice other things to achieve his goals. The ability to focus is also a major point. Those who think that knowledge of C or Assembly is going to help them are, in my view, mistaken. Consider the world of video games: 10 years ago no one thought you’d be able to play Donkey Kong on your TV at home. The technical knowledge of today will no longer be useful in ten years. In contrast, we want to hire adapatable people who are looking toward tomorrow’s challenges.

Interview lengkapnya bisa dibaca disini: http://shmuplations.com/1994game4/

Pemikiran beliau (20 tahun lalu) jadi pengingat untuk kita semua, bahwa kemampuan teknis penting – namun semangat pantang menyerah untuk menghasilkan sebuah karya yang baik,  kemampuan untuk selalu belajar hal baru, dan selalu beradaptasi dengan perubahan yang ada adalah bekal utama untuk terus maju.

Sumber gambar: http://wiiudaily.com

 

 

 


Game Edukatif

Apakah kita perlu menempelkan label “game edukatif” jika pada dasarnya setiap game bisa mengajarkan kita sesuatu?

Saya selalu percaya game punya potensi yang luar biasa dan untuk menghadirkan potensi itu, seorang game designer harus mampu memadukan berbagai elemen game secara optimal. Ada 4 elemen dasar game: objektif, gameplay, narasi, dan teknologi yang harus kita optimalkan. Ke-4 elemen tersebut saling menunjang satu sama lain dan karena itu sulit sebuah game bisa hadir dengan potensi terbaiknya jika kita berpikir bahwa setiap konten (narasi) bisa begitu saja kita tampilkan (baca: tempelkan) tanpa peduli elemen lainnya.

Banyak yang kemudian berpikir game edukatif adalah game dengan konten-konten edukasi, dengan kata lain konten adalah segalanya – elemen lain dalam game tersebut tidak lagi penting. Karena terlalu fokus pada konten, objektif dan gameplay yang dibangun adalah seadanya, narasi dan latar cerita hadir tanpa rasa, dan teknologi hanya untuk menambah harga jual semata. Jika kita hanya mencari konten edukasi yang begitu detil dan lengkap, mengapa harus dari game? Buku, film dokumentasi, berbagai website bisa menghadirkan konten itu dengan lebih lengkap.

Menurut saya, game edukatif adalah sebuah game yang mampu memotivasi pemainnya untuk kemudian tertarik mempelajari sebuah subjek tertentu (yang bernilai positif dan sesuai dengan umurnya). Dalam level yang lebih tinggi ia mampu membuat pemainnya mempelajari sesuatu – bahkan tanpa ia sendiri sadari. Game yang didesain secara optimal akan mampu menghadirkan itu semua. sayangnya hal itu tidak mudah dan butuh waktu untuk kita bisa terus bisa mengoptimalkannya.

Menjawab pertanyaan di atas, lebih penting dari melabelkan sebuah game menjadi game edukatif adalah selalu mencoba menghadirkan game dengan segala potensi terbaiknya. Karena ketika kita benar-benar mampu melakukannya, setiap game yang kita hasilkan akan jadi sebuah karya yang bermanfaat untuk semua. Ini sebuah mimpi yang layak untuk kita perjuangkan bersama.


Designer’s Note: Mendengar dan Belajar Sepenuh Hati

Seorang game designer percaya sepenuh hati bahwa game yang dihasilkannya adalah sebuah karya terbaik yang mampu menghadirkan gembira dan bahagia. Di sisi lain, seorang game designer harus selalu membuka diri dan pikirannya akan setiap masukan dan berharga. Ia sadar bahwa kadang ego jadi penghalang untuk bisa menghasilkan game terbaik. Ia selalu ingat bahwa mendesain game sekedar untuk tepukan tangan atau penghargaan hanya cocok untuk mereka yang baru memulai dan belum sadar potensi game sebenarnya. Ia terus belajar dan sadar bahwa mentor terbaik adalah para pemainnya – dan untuk itu ia akan selalu memperhatikan, mendengarkan, membuka pikiran, dan terus melatih empatinya. Ia gembira ketika pemainnya gembira, ia bahagia ketika mereka bahagia – bahkan ketika tidak ada tepukan tangan atau penghargaan yang menggema.

Sumber gambar: http://lmcinteractiveservices.com.au/

 

 


Designer’s note: Gembira dan Bahagia

Gembira dan bahagia tidak bisa di paksakan. Mereka hadir ketika kita siap dan bersedia. Game bisa menyederhanakan gembira dan bahagia sehingga orang bisa lebih siap untuk menerima juga membagi keduanya. Game designer adalah mereka yang setiap saat mampu menikmati gembira dan bahagia bahkan dalam bentuk yang paling sederhana.

Sumber gambar: https://thesilentcackler.wordpress.com

 

 


Bakar-Bakar pun Perlu Game Design

Weekend ini mencoba satu game yang sangat menarik berjudul Little Inferno. Dalam game pemain bisa membakar berbagai barang yang tersedia, termasuk bulan dan bom nuklir, di sebuah tungku yang disebut Little Inferno. Tantangannya muncul ketika kemudian kita dituntut menemukan kombinasi barang yang tepat untuk dibakar. Perlahan, sebuah rangkaian cerita juga mulai hadir – dikemas dalam bentuk sederhana namun sunguh mengena. Ini adalah sebuah game dengaan kombinasi puzzle mechanics dan scaffolding story telling yang sangat menarik. Game ini bukti bahwa kombinasi gameplay sederhana, jika dilakukan dengan tepat akan bisa jadi landasan untuk sebuah game yang berkualitas.

Menariknya, game ini mengingatkan saya tentang apa yang terjadi di sekitar kita saat ini. Kita melihat pihak-pihak yang mendesain sebuah game besar – memotivasi sebagian kita “membakar” banyak hal di berbagai tungku bernama “media”. Sama halnya seperti little inferno mereka juga menantang kita untuk mengkombinasikan berbagai hal, sambil coba menghadirkan sebuah scaffolding story telling agar kita bisa menerima cerita imajiner mereka. Sayangnya, ini didesain dengan sangat buruk. Bukan hanya kita tidak tertarik untuk ikut membakar apa yang mereka hadirkan, kita juga menolak mentah-mentah berbagai cerita mereka.

Ini yang mebuat saya selalu percaya bahwa game punya potensi luar biasa. Kita melihat banyak pihak coba menghadirkan game di sekitar kita. Sayangnya sebagian mungkin tidak punya cukup waktu untuk mendesainnya secara baik, kadang bahkan tanpa dilandasai niat baik, dan tidak peduli apakah akan berdampak baik. Kita tidak butuh game-game seperti itu dan sudah semestinya kita bisa hadirkan yang jauh lebih baik.

*Artikel ini sebelumnya telah dipublish di http://segitiga.net

The Best Game Designer

They just need wind and a plastic bag to create a game, to share happiness!

Designing a good game is never about the technology, the effect, or the platform (media). What a game needs to deliver is a simple way to find our own happiness. It’s all about delivering experience to the player. It’s about providing path, models, and some time boundary to make sure that each player will find their happiness. But there is simple rule about happiness: it tastes much better if we can share it to others.

Therefore, I believe the best game designer is the one who can create a game that not only helps us finding our happiness easily, but also reminds us to share our happiness with other. Those 3 in the picture are some of them.

 


Tinta Tanda Cinta Indonesia

jari-tinta

Hari ini 9 Juli 2014 hari yang luar biasa, dengan tanda tinta di ujung jari kami berdua ikut memilih ikut berpartisipasi aktif menunjukan rasa cinta dan harapan kami bagi Indonesia. Tahun ini kami bersyukur diberi kesempatan menikmati pesta demokrasi yang begitu  gegap gempita. Kami bersyukur bisa menikmati pemilu yang mampu memotivasi hadirnya berbagai karya kreatif luar biasa. Komik, animasi, game, hingga pertunjukan musik akbar hadir dalam pemilu yang begitu penuh warna.  Di akhir hari ini kita semua adalah pemenangnya, karena  kita semua masih bisa menikmati kebebasan memilih, berekspresi, dan berkarya!

Pesta telah usai, banyak yang harus kita bereskan, kita bersihkan, dan kita jaga sama-sama. Pesta telah usai, banyak pihak yang harus kita sapa dan kita ingatkan bahwa kita semua adalah saudara.  Pesta telah usai, namun bukan berarti kita kemudian berhenti berkarya.  Pesta telah usai, mari kita lanjut untuk kembali bermain bersama, berbagi bahagia, dan memberikan yang terbaik untuk semua!

*salam 2 jari

EN


Pages:12