:::: MENU ::::

Lebaran


on Instagram: https://www.instagram.com/p/Bj3zudIjFTs/

Tiap kali mendengar kata Lebaran entah kenapa yang terbayang adalah ketupat, disiram bumbu opor, ditambah sambel goreng kentang plus pete, dicampur daging rendang, ditaburi bawang goreng, dan hiasi emping renyah nah gurih. Mungkin itu salah satu esensi lebaran, menggabungkan berbagai kebahagiaan dalam satu kesempatan. Pertanyaannya, kebahagiaan apa yang akan kita bawa pulang?#lebaran #ketupat #rendang #indonesia


#ceritakiriya Uang

Tuan putri kirinya punya mesin ATM di kamar bersanding di sebelah celengan wup-wupnya. Uang dari ATM bisa masuk ke celengannya begitu juga sebaliknya. Sering kali kami bermain dengan uang imajiner, ada nilainya tanpa perlu ada bentuknya. Di lain kesempatan segala hal bisa kami jadikan uang, kancing, daun, kertas – semua bisa jadi uang, jadi alat tukar untuk apa saja.

Tuan putri mengingatkan saya bahwa uang bukan hal yang esensial, ia tidak perlu ada untuk kami bisa bermain dengan gembira. Jika memang diperlukan, kami bisa hadirkan dengan apa yang kami miliki. Uang hanyalah sebuah konsekuensi serta bentuk apresiasi dari kemampuan kita berkarya dan berkreasi. Uang juga bukan media terbaik untuk melambangkan perhatian dan kasih sayang, pelukan hangat, senyum tulus, dan kehadiran sepenuh hati – jauh lebih mampu menjadi bukti.

Jika pemahaman ini bisa terus tuan putri yakini hingga ia dewasa nanti, banyak bahagia yang mungkin bisa lebih mudah ia nikmati. . Atas dasar itu semua, kami tidak pernah memberikan hadiah dalam bentuk uang pada tuan putri. Kami akan sangat berterima kasih jika Kakek, Nenek, Om, dan Tante semua juga ikut membantu kami. Pelukan dan senyuman, terutama di hari yang Fitri nanti, sudah cukup untuk jadi bukti sayang untuk kami.


Rumah Tanpa TV

Eh acara idol Fav keluargamu apa? Tahu gak acara lunas hutang itu? Eh si artis A sudah gak sama B bener gak sih?

Jika pertanyaan di atas diajukan sebagai syarat sertifikasi game designer Indonesia, saya pasti akan gagal dengan perkasa.

Sejak lama di rumah kami memang tidak ada TV. Lho terus sepi dan ngebosenin donk mas? Klo definisi ngebosenin adalah punya cukup waktu untuk menikmati banyak cerita dari para tuan putri, cukup waktu untuk belajar menikmati setiap game yang putri kiriya ciptakan, dan cukup waktu untuk sadar bahwa mamam kanty makin jelita – maka iya, rumah kami membosankan.

Jadi menurut mas TV jelek? TIDAK. Saya cuma merasa saya tidak mampu dan tidak cukup waktu untuk menikmati berbagai informasi yang tidak relevan dengan kebutuhan saya belajar setiap hari. Saya juga tidak mampu memberikan pemahaman dan sudut pandang kritis bagi keluarga saya atas banyak informasi tidak akurat yang mungkin dibroadcast secara berulang. Saya juga merasa tidak mampu dan tidak akan pernah rela untuk mengurangi jatah saya belajar main dengan para tuan putri jelita.

Jadi tiap kali ditanya: kenapa gak punya TV?Kami selalu jawab dengan jujur karena memang kami tidak mampu.

 


Game Bukan (cuma) Untuk Anak

“Mas anak-anak sudah saya belikan berbagai jenis game edukasi lengkap dengan gadget dan semua perlengkapan paling baru – tapi gak ada efeknya tuh. Katanya game salah satu media terbaik untuk belajar mana buktinya – sudah tak belikan yang paling mahal rekomendasi para ahli tetep aja tidak ada hasilnya?” Satu hari salah seorang rekan curhat dengan semangat membara.

“Bapaknya pernah ikut main gak?” tanya saya.

“Moso saya ikut main game – malu sama umur donk mas! Lagian mana ada waktu buat main begitu. Lha khan saya investasi buat mereka bisa anteng belajar sendiri. “

“Coba ikut main sekali-kali. Karena game apapun ketika kita mainkan sama-sama dengan gembira pasti jadi media belajar untuk KITA (orang tua). Anak-anak kita adalah pembelajar sejati – mereka punya kemampuan belajar luar biasa. Kadang mereka cuma butuh waktu untuk duduk dengan mereka yang juga punya semangat belajar sama. Sayangnya kita kadang lebih suka berleha-leha. Game mungkin adalah media belajar terbaik untuk kita (orang tua), belajar meninggalkan ego, dan menujukkan pada anak-anak kita bahwa kita sungguh masih semangat untuk belajar. Ketika kita duduk main dengan mereka, mereka punya kesempatan melihat kita sebagai individu yang tidak pernah berhenti belajar dan menikmati setiap prosesnya. Mungkin itu akan jadi proses belajar terbaik untuk semua.” Saya cerita sambil sedikit menyesal, karena ketika saya cerita rekan saya menghabiskan cireng terakhir yang ada di meja. Ini jadi pelajaran utama untuk saya, habiskan dulu cireng sebelum cerita.

#gamebasedlearning #boardgameID #indonesia #gamedesignernote#gamedesign


#DearKiriya: Mudik

Dear Kiriya – Tuan Putrinya Mamam Pampam,

lebaran ini kita bertemu banyak saudara, banyak orang, yang sebagian bahkan kita baru bertemu. Mungkin itu salah satu esensi BER-LEBAR-AN: BER-temu untuk memper-LEBAR silaturahmi dan berbagi kebahagia-AN. Sungguh ini hal yang baik yang harus terus kita jaga dan jalankan sepenuh hati.

Namun, sepertinya akan lebih baik jika. kita bisa lebih sering berlebaran dalam esensi di atas – tanpa terikat momen atau waktu tertentu. Untuk itu pampam mamam ingin adinda mengerti beberapa hal berikut:

  1. Mudik atau pulang ke rumah kami adalah hak adinda, bukan kewajiban. Mudiklah ketika adinda mau atau perlu, atau ketika ada tiket murah, atau adinda ingin traktir kami makan enak. Mudiklah kapan saja, tidak perlu menunggu Idul Fitri.
  2. Kemungkinan besar kami akan sibuk saat idul fitri, mungkin kami juga akan silaturahmi sambil liburan, atau coba belajar banyak hal baru. Untuk itu akan lebih menyenangkan sepertinya kalau kalau adinda mudik tidak hanya pada saat Idul Fitri.
  3. Pampam mamam bahagia jika bisa bertemu adinda – saat Idul Fitri atau bukan kami sama bahagianya. Namun kebahagiaan kami tidak pernah bergantung pada kehadiran adinda sepenuhnya – karena Yang Maha Pengasih telah memberi begitu banyak kebahagiaan untuk kami syukuri. Untuk itu jangan pernah berpikir kami akan sedih jika adinda melewatkan Idul Fitri bersama kami. Ada adinda atau tidak pada saat idul fitri – kami tetap bahagia, dan kami berharap adinda juga selalu bahagia di manapun adinda berada.
  4. Kelak jika kami telah tiada, kami akan berterima kasih jika adinda berkenan mendoakan kami. Tapi kami sadar sepenuhnya, layak atau tidaknya kami mendapatkan doa adinda bergantung pada sebaik apa usaha kami memperbaiki diri dan memenuhi janji kami untuk belajar bersama adinda selama kami hidup. Jika karena satu dua hal, kami ternyata tidak layak, mohon adinda berkenan memaafkan kami. Yang Maha Mengetahui pasti mendengar semuanya – dimanapun dan kapanpun doa atau maaf itu adinda bisikan. Untuk itu, silahkan berkunjung ke peristirahatan terakhir kami, tapi janganlah memaksakan diri pada waktu tertentu. Datanglah ketika adinda merasa perlu dan mampu. Ketika berkunjung silahkan manfaatkanlah untuk belajar, mengingatkan diri bahwa kehidupan ini hanya sebuah perjalanan singkat untuk kita berkarya dan berbagi manfaat bagi semesta. Jika memang kami layak, bisikanlah sedikit doa – insya Allah itu akan jadi bekal baik bagi kami menghadap pada Sang Maha Kuasa.

Demikian sedikit dari pampam mamam.

Salam hormat dan sayang,
Pampam Mamam


Tetris dan Teror Jakarta

#Designer’s Note 

Ketika bermain tetris kita melakukan analisa terhadap berbagai faktor, dari mulai bentuk kepingan puzzle yang mulai turun, kepingan selanjutnya yang akan muncul, kepingan-kepingan puzzle lain yang sudah tersusun di bagian bawah, lokasi mana yang paling tepat, serta semua keuntungan/resiko yang mungkin muncul dari peletakan kepingan puzzle tersebut. Semua kita lakukan dalam waktu yang relatif singkat dan berulang kali. Tetris (dan juga berbagai game puzzle lain) melatih kita untuk menganalis, berpikir kritis, mempertimbangkan segala bentuk resiko/keuntungan, dan mengambil keputusan yang tepat dalam waktu singkat.

Sayangnya sepertinya banyak orang tidak sempat bermain tetris…

Majalah tempo 18 Januari kemarin menampilkan foto-foto teror jakarta secara luar bisa. Dari berbagai foto tersebut kita melihat kerumunan masa yang mendekat lokasi bahaya untuk membuat foto (termasuk foto korban). Sebagian dari mereka mungkin langsung membagikan foto korban tersebut ke saudara, rekan, dan teman yang kemudian tanpa berpikir panjang juga ikut membagikannya kembali. Dalam hitungan menit begitu banyak foto korban yang tersebar di media sosial, tanpa peduli hal tersebut mungkin dilihat oleh keluarga korban, atau anak-anak kita yang belum sepantasnya melihat hal tersebut.

Bagaimana kemudian begitu banyak orang tidak memperdulikan resiko untuk kemudian mendekat ke area bahaya, membuat foto (selfie bahkan) dan begitu banyak yang lainnya tanpa berpkir panjang membagi foto tersebut secara sukarela? Tanpa mempertimbangkan apakah itu hal yang baik atau tidak. Ini bukan kali yang pertama, mungkin sudah jadi bagian keseharian kita. Kita begitu mudah membagi satu berita hanya dengan pertimbangan suka, sepakat, atau demi banyak like/komentar semata. Dari satu group ke group lainnya, dari satu timeline ke timeline lainnya.  Apakah itu pantas atau tidak, fakta atau hoak, benar atau fitnah, kita tidak peduli. Buktinya di negeri ini segelintir oknum bisa membuat gosip bahkan fitnah jadi seakan fakta, tersebar begitu luas, berkali-kali, dan (optimis) selesai dengan memohon maaf ala kadarnya.

Apakah kebiasaan ini yang akan kita turunkan pada anak-anak kita? membagi berita tanpa tanya? Menyimpulkan tanpa data? Memutuskan tanpa rasa?

Mengasah kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana perlu banyak latihan dan dibiasakan, untuk itu mungkin kita semua perlu main tetris lebih lama. Tentu akan lebih baik jika kita juga mulai mengajak anak-anak kita bermain bersama.

-EN-

Sumber gambar: http://hypescience.com/

5 Langkah Agar Kecanduan Game

Bagaimana menghindarkan anak-anak dari kecanduan game? Ada banyak tips dari para ahli untuk menjawab hal tersebut – umumnya menyerankan untuk menjauhkan atau minimal membatasi anak-anak bermain game. Permasalahannya adalah saat ini game begitu dekat dengan anak-anak kita dan telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Menjauhkan mereka dari game akan jadi tantangan tersendiri dan mungkin akan jadi permasalah tersendiri.

Jika pertanyaan itu diajukan pada saya, saya selalu menjawab: orang tuanya harus lebih dulu “kecanduan”. Berikut adalah beberapa langkah sederhana bagi kita para orang tua untuk belajar kecanduan bermain game bersama-sama:

1. Cari tahu judul game yang anak-anak kita suka mainkan.
Sempatkan untuk mencari tahu minimal judul game yang mereka sukai dan coba cari tahu mengapa mereka tertarik memainkannya. Ketertarikan kita akan jadi sinyal bahwa kita peduli dan ini mungkin membuka komunikasi yang menarik dengan anak kita.

2. Baca info terkait game tersebut.
Ketahui beberapa hal dasar dari game tersebut, konsepnya, game designer/developernya, serta apa kelebihannya (wikipedia bisa jadi awal yang baik). Hal ini penting untuk menyiapkan mental kita agar bisa lebih tertarik. Anak-anak akan tahu jika kita hanya pura-pura tertarik atau sungguh-sungguh tertarik. Untuk itu penting untuk memotivasi diri kita untuk sungguh-sungguh tertarik dengan game anak-anak kita.

3. Pelajari walktrough dari game tersebut.
Investasikan waktu 20-30 menit untuk melihat video walktrough (panduan dasar) dari game tersebut via youtube atau web resminya (cukup googling walktrough “judul game”). Dengan begitu kita memiliki gambaran dasar bagaimana sebuah game dimainkan. Tidak apa jika kita belum sepenuhnya mengerti, apa yang tidak kita mengerti bisa menjadi bahan diskusi menarik nanti dengan anak-anak kita.

4. Jadwalkan untuk bermain bersama.
Buat jadwal khusus untuk bermain bersama. Persiapkan acara bermain bersama ini secara sungguh-sungguh dan libatkan sebanyak mungkin anggota keluarga. Sabtu/Minggu sore jam 15 s/d jam 17 bisa jadi waktu yang baik. Awali dengan menyiapkan snack sederhana dan akhiri dengan makan malam bersama. Jadikan waktu bermain ini sebuah aktivitas penting untuk seluruh keluarga.

5. Diskusikan game yang baru saja dimainkan.
Sempatkan untuk membahas berbagai hal yang menarik selama sesi bermain bersama tadi. Siapa yang menang, bagaimana strategi bisa menang, mengapa kalah, apa kesalahan yang dilakukan, apa yang menarik dari game tadi, apa yang jadi latar cerita, dan berbagai hal lain yang menarik untuk diskusi bersama.  Misal ketika gamenya memiliki latar belakang sebuah gurun, kita bisa bahas gurun terbesar di dunia dan apa yang menarik di sana. Jika perlu eksplor lebih jauh dengan membuka buku atau artikel terkait.

Jika berbagai hal tersebut di atas bisa dilakukan secara rutin dan semua keluarga ikut “kecanduan bermain game bersama” – maka kita akan melihat bahwa game punya potensi luar biasa.

 

 


#DearKiriya: Ultah 1

Dear Kiriya – Tuan Putrinya Mamam Pampam,

Hari ini genap 365 hari Tuan Putri hadir di dunia, meninggalkan gemerlap surga untuk berbagi bahagia. Setiap hari kami masih sulit percaya bahwa kami dipercaya untuk menyambut dan jadi tempat pertama Tuan Putri berbagi bahagia. Satu tahun ini kami belajar banyak dan kami melihat Tuan Putri yang juga belajar begitu semangat, begitu cepat, dan begitu menikmati semua prosesnya. Kami berjanji untuk terus belajar lebih baik lagi, tolong Tuan Putri jangan pernah bosan untuk ikut belajar sama-sama.

Tuan Putri Kiriya, Kami mohon maaf tidak bisa menggelar pesta atau memberi hadiah penuh warna, tidak pula kue serta tiupan lilin penanda bahagia. Kami hanya bisa berdoa semoga Tuan Putri senantiasa bisa menemukan bahagia setiap saat sebagaimana kami begitu mudah menemukannya sejak Tuan Putri hadir menjelma.

Tuan putri Kiriya, terima kasih atas segala bahagia yang tuan putri bawa. Kami sadar bahwa bahagiamu bukan untuk kami semata, kami akan cari cara untukmu bisa terus membagi bahagia sepanjang masa. Insya Allah kami juga akan terus ikut belajar membagi setiap bahagia yang kami punya.

Selamat ulang tahun Tuan Putri Kiriya!

Ttd,
Kami yang selalu bangga dan bahagia
Pampam dan Mamam


Kita Semua Adalah Game Designer Untuk Anak-Anak Kita

Bagi kita yang menikmati game, semua indikator dalam game (point, badge, level-up) kadang bukan hal yang utama. Mereka penting untuk memberi “sense of progress” sejauh mana kita berkembang dan sejauh mana kita berhasil mendekati objektif kita. Namun itu pengalaman bermain yang optimal sesungguhnya baru bisa tercipta ketika pemain secara kontinu bisa menikmati berbagai proses yang ia lakukan, bukan hanya ketika indikator -indikator tersebut tercapai. Untuk itu berbagai detil kecil kadang berperan lebih signifikan (misal ukuran/ bahan kartu dalam board game, gerakan dan sound yg tepat dalam digital game) dan berbagai detil kecil tersebut yang sesungguhnya jadi trigger hadirnya pengalaman bermain yang menyenangkan dan sumber kegembiraan bagi pemain. Sayangnya, banyak game designer lupa untuk benar-benar bisa mengoptimalkan itu semua.

Dan kadang kita juga lupa bahwa kita semua adalah game designer untuk anak-anak kita.

Di awal kehidupan mereka, setiap hal – sekecil apapun jadi begitu luar biasa. Kita bangga dan begitu bahagia untuk setiap pencapaian (kecil) yang mereka lakukan. Semakin mereka dewasa, kita semakin menuntut mereka. Kita kemudian hanya fokus untuk melihat pencapaian besar yang mereka lakukan: naik kelas, kuliah, wisuda, bekerja, menikah – yang notabenya hanyalah indikator bahwa mereka semakin dewasa dan kita (orang tua) semakin renta. Kita meluapkan gembira/bahagia ketika semua indikator tersebut tercapai – dan sedih bahkan marah ketika semua tertunda.

Padahal, mungkin banyak hal sederhana – setiap hari, bahkan setiap saat yang sesungguhnya jadi sumber kegembiraan mereka dan kita lupa untuk benar-benar menghadirkannya. Mungkin mereka gembira ketika kita mendengarkan dengan hati bukan hanya telinga, mungkin mereka gembira ketika kita ada untuk mereka, mungkin mereka gembira ketika bisa selalu pulang dan ada pelukan hangat terbuka. Rangkaian hal kecil yang sesungguhnya bisa kita lakukan setiap hari dan mungkin akan jadi pembeda apakah anak-anak kita akan menemukan bahagia dalam hidupnya.

Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/

Reformasi Program Studi Game

 

Sering mendapat kabar bahwa banyak mahasiswa yang kemudian enggan belajar tentang game karena melihat banyak hal teknis/rumit yang harus mereka pelajari. Membuat game jadi sebuah kemewahan dan hak ekslusif sebagian mereka yang cukup pintar dan bersedia bekerja keras.

Di satu sisi hal ini memang bagian dari seleksi, mereka yang sungguh-sungguhlah yang akan berhasil.

Di sisi lain kita mungkin kehilangan banyak talenta, hanya gegara kita tidak sunguh-sunguh mampu mendesain sebuah pendekatan pembelajaran game yang baik. Kita terjebak mengajarkan game melulu dari aspek teknis dan peluang bisnis. Kita lupa bahwa para talenta muda itu mampu membuat perubahan berarti dan bahwa kesempatan untuk melakukan perubahan mungkin adalah motivasi yang tertinggi. Andai kita bisa secara rutin meyakinkan mereka, memberi contoh, membuka jalan – bahwa game bisa jadi media untuk mereka menciptakan berbagai perubahan berarti, mungkin akan lebih banyak yang bersedia belajar sepenuh hati.

Mungkin kita belum mampu meyakinkan mereka karena banyak diantara kita sendiri yang belum sepenuhnya percaya, bahwa kita mampu menghadirkan perubahan lewat setiap karya.

 

Sumber gambar: http://gamefulscholar.me/

Pages:1234